Antisipasi Bahaya Penyakit Menular di Kawasan Wisata Lombok Barat
Musim hujan membawa risiko meningkatnya penyebaran penyakit menular di berbagai wilayah, termasuk kawasan wisata. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Kesehatan berupaya mencegah dan menangani potensi ancaman ini, terutama di daerah wisata seperti Senggigi dan sekitarnya. Kabid Pelayanan Keperawatan & Kebidanan Dinas Kesehatan Lombok Barat, dr. Ahmad Taufik Fathoni, menjelaskan beberapa langkah strategis untuk menjaga kesehatan masyarakat dan wisatawan.
Menurut dr. Taufik, demam berdarah menjadi salah satu penyakit menular yang sering muncul saat musim hujan. Genangan air di sekitar pemukiman dan kawasan wisata dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah. Daerah seperti Gunungsari dan Batulayar menjadi wilayah dengan risiko tinggi karena curah hujan yang menyebabkan aliran air tak terkendali.
"Untuk mencegah demam berdarah, kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak membiarkan genangan air. Selain itu, upaya fogging dan pemberantasan sarang nyamuk terus dilakukan," ujar dr. Taufik, Jumat (29/11/2024).
Di kawasan wisata, pengelolaan sanitasi menjadi prioritas. Pemerintah memastikan hotel dan penginapan menerapkan standar kebersihan yang ketat, termasuk dalam pengelolaan air limbah dan sampah. Tim kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Lombok Barat bersama sanitarian puskesmas rutin melakukan monitoring terhadap kualitas air, termasuk air yang digunakan dalam fasilitas hotel seperti shower dan penampungan air.
“Air di fasilitas hotel, terutama di shower dan grongseng penampungan air, kami periksa secara berkala. Pembersihan rutin menjadi kunci untuk mencegah penyebaran penyakit infeksi paru melalui saluran air,” jelas dr. Taufik.
Selain demam berdarah, penyakit menular lain yang juga diantisipasi adalah malaria dan HIV. Tahun lalu, ditemukan enam kasus malaria di wilayah Batulayar, namun seluruhnya sudah tertangani. Meski belum ada laporan kasus malaria tahun ini, potensi tetap ada, terutama di kawasan yang memiliki genangan air.
Sementara itu, HIV menjadi perhatian khusus di kawasan wisata. “HIV adalah penyakit yang kita khawatirkan karena pengaruhnya pada masyarakat dan wisatawan. Upaya edukasi dan pencegahan terus dilakukan melalui kampanye kesehatan,” tambahnya.
Dinas Kesehatan Lombok Barat menggalakkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha di kawasan wisata. Lima pilar STBM, termasuk pengelolaan sampah dan penghapusan genangan air, menjadi panduan utama dalam menjaga lingkungan yang sehat.
“Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sangat penting. Pemisahan sampah dan pengelolaan limbah harus diperhatikan agar kawasan wisata tetap aman dari penyakit menular,” tegas dr. Taufik.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, kendala tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan anggaran untuk pemeriksaan sampel air di hotel dan penginapan. Selain itu, masalah penumpukan sampah di beberapa wilayah masih sering terjadi, yang memerlukan perhatian lebih dari pihak terkait.
Dengan upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola kawasan wisata, diharapkan ancaman penyakit menular dapat diminimalkan. Kebersihan lingkungan, pengelolaan sanitasi yang baik, serta edukasi masyarakat menjadi kunci utama menjaga Lombok Barat tetap sehat dan nyaman sebagai destinasi wisata unggulan.
No comments yet. Be the first to comment!