Loading...

DETAIL BERITA

  • HOME
  • DETAIL BERITA
News Image
LombokSosmed, Dirilis pada:27 Agu 2026, 15:24 / 0 Komentar

Lebih dari 1.300 Orang Hilang Usai Runtuhan Gletser Picu Banjir Dahsyat di Nepal dan Tibet

HALODESA.ID, DUNIA — Bencana besar melanda kawasan Himalaya setelah runtuhnya gletser memicu banjir bandang dan longsor lumpur dahsyat di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, Tiongkok.

Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, sedikitnya 168 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 1.300 orang masih hilang. Korban hilang dilaporkan mencakup warga lokal, pekerja, peziarah, hingga sejumlah warga negara asing.

Tim penyelamat masih melakukan pencarian di tengah kondisi medan yang sulit setelah banjir besar menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, serta berbagai infrastruktur penting di kawasan pegunungan tersebut.

Banjir Datang Begitu Cepat, Warga Nyaris Tak Sempat Menyelamatkan Diri

Banjir bandang menerjang sejumlah komunitas di kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok setelah material dari runtuhan gletser mengalir ke hilir.

Rekaman video yang beredar menunjukkan derasnya arus banjir menyapu kawasan permukiman, sementara sejumlah bangunan dan jembatan hancur diterjang air serta lumpur.

Di wilayah Nuwakot, Nepal, lumpur dilaporkan menutupi bangunan hingga mencapai lantai atas. Kendaraan terkubur material banjir, sementara puing-puing tersangkut di pepohonan dan jaringan kabel.

Seorang warga mengatakan banjir datang dalam waktu yang sangat singkat sehingga banyak orang tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri.

168 Orang Tewas, Lebih dari 1.300 Masih Hilang

Data terbaru dari pihak berwenang menunjukkan sedikitnya 165 orang meninggal dan 826 orang hilang di Nepal.

Sementara itu, di wilayah Tibet, Tiongkok, sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan 558 orang lainnya masih hilang.

Total korban hilang di kedua wilayah tersebut telah melampaui 1.300 orang.

Bencana ini juga menyebabkan sekitar 1.200 orang mengungsi dari sejumlah desa yang terdampak banjir.

Tim penyelamat menemukan sejumlah korban hingga sekitar 100 kilometer dari lokasi utama bencana. Puluhan orang yang mengalami luka telah dievakuasi ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Jalan dan Jembatan Hancur, Helikopter Dikerahkan

Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi tantangan besar karena puluhan jembatan dilaporkan hancur.

Hampir 40 kilometer jalan mengalami kerusakan, sehingga akses menuju sejumlah lokasi terdampak menjadi sangat sulit.

Militer Nepal mengerahkan helikopter untuk melakukan evakuasi dari udara. Lebih dari 100 orang berhasil diselamatkan dari wilayah terdampak, termasuk sejumlah warga negara asing yang kemudian diterbangkan ke Kathmandu.

Di Tibet, longsor lumpur di sekitar kawasan perlintasan Gyirong Port juga menyebabkan jalan-jalan mengalami kerusakan parah.

Lumpur di beberapa lokasi dilaporkan mencapai lebih dari satu meter, bahkan terdapat ruas jalan yang tertimbun material hingga lebih dari dua meter.

Ratusan Warga Asing Ikut Dilaporkan Hilang

Bencana ini menjadi perhatian internasional karena banyak warga asing berada di kawasan tersebut untuk melakukan perjalanan wisata, pendakian, maupun ziarah.

Sejumlah warga India dilaporkan berada di kawasan Himalaya untuk melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet, salah satu lokasi suci bagi umat Hindu.

Pemerintah Australia juga melaporkan puluhan warganya yang mengikuti perjalanan ziarah dan pendakian belum dapat diketahui keberadaannya.

Selain itu, sejumlah warga Malaysia dan Selandia Baru juga dilaporkan sulit dihubungi akibat rusaknya infrastruktur dan jaringan komunikasi di wilayah terdampak.

Awalnya Dikira Gempa Bumi, Ternyata Runtuhan Gletser

Peristiwa ini pada awalnya sempat dikaitkan dengan gempa bumi.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS sebelumnya mendeteksi aktivitas seismik di kawasan tersebut dan melaporkan kejadian tersebut sebagai gempa.

Namun, setelah dilakukan analisis lebih lanjut menggunakan data stasiun seismik dan citra satelit, USGS memperbarui kesimpulannya.

Peristiwa tersebut dinyatakan sebagai runtuhan gletser, bukan gempa bumi.

Runtuhan besar material es dan batu dari kawasan gletser kemudian memicu aliran material ke hilir dan menghasilkan banjir bandang dengan kekuatan sangat besar.

Para ahli iklim juga menyatakan bahwa longsoran dari gletser kemungkinan menjadi pemicu utama bencana tersebut.

Di salah satu titik Sungai Trishuli, permukaan air dilaporkan meningkat hingga sekitar 9 meter hanya dalam waktu sekitar 30 menit.

Perubahan Iklim Jadi Ancaman Serius bagi Himalaya

Bencana ini kembali menyoroti meningkatnya ancaman terhadap kawasan Himalaya.

Pegunungan Himalaya memiliki sejumlah gletser terbesar di dunia di luar kawasan kutub. Namun, pemanasan global menyebabkan pencairan es semakin cepat dan meningkatkan risiko longsor, banjir bandang, serta bencana akibat danau glasial.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa laju kehilangan es di kawasan Hindu Kush Himalaya meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir.

Kawasan tersebut bahkan pernah mengalami bencana serupa pada Agustus 2025, ketika danau glasial di Tibet meluap setelah suhu tinggi menyebabkan perubahan pada sistem es di wilayah tersebut.

Bencana terbaru ini memperlihatkan bagaimana komunitas, infrastruktur, jalur perdagangan, dan kawasan wisata di Himalaya semakin rentan terhadap perubahan kondisi iklim dan ketidakstabilan sistem gletser.

Operasi pencarian terhadap lebih dari 1.300 orang yang masih hilang hingga kini terus berlangsung. Kondisi di sejumlah lokasi masih berbahaya karena hujan dan potensi longsor susulan dapat menghambat upaya penyelamatan.

Sumber: Associated Press (AP News)

Catatan Redaksi: Jumlah korban dan orang hilang dapat berubah seiring proses pencarian, identifikasi, dan pembaruan resmi dari otoritas Nepal serta Tibet, Tiongkok.


0 Comments:

  1. No comments yet. Be the first to comment!

Berikan Komentar