Loading...

DETAIL BERITA

  • HOME
  • DETAIL BERITA
News Image
LombokSosmed, Dirilis pada:05 Sep 2026, 09:12 / 0 Komentar

Kemarau dan Panas Ekstrem Picu Kebakaran di Berbagai Penjuru Dunia, Indonesia Ikut Waspada

HALODESA.ID — Gelombang panas dan kemarau berkepanjangan tengah meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah dunia. Kondisi tanah dan vegetasi yang semakin kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa panas ekstrem, kekeringan, dan kebakaran menjadi bagian dari rangkaian cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang musim panas 2026. Juli 2026 bahkan tercatat sebagai salah satu Juli terpanas dalam sejarah pengamatan global.

Eropa Dilanda Kekeringan dan Kebakaran

Eropa menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tekanan besar akibat kombinasi panas dan kekeringan.

Pusat Penelitian Bersama Komisi Eropa (JRC) melaporkan bahwa kekeringan telah berlangsung di sejumlah wilayah Eropa sejak musim semi. Kondisi tersebut diperburuk gelombang panas dan rendahnya curah hujan.

Situasi ini membuat vegetasi menjadi bahan bakar alami yang mudah terbakar. Kebakaran besar kemudian terjadi di sejumlah negara, termasuk Prancis dan Spanyol.

Hingga 5 Agustus 2026, luas wilayah yang terbakar di Uni Eropa telah mencapai sekitar 505.683 hektare, lebih tinggi dibandingkan 379.392 hektare pada periode yang sama tahun 2025.

Badan kesehatan PBB juga memperingatkan bahwa lebih dari 600.000 hektare lahan telah terbakar di negara-negara Uni Eropa selama delapan bulan pertama 2026, jauh di atas rata-rata 20 tahun yang berada di sekitar 280.000 hektare.

Prancis Catat Musim Panas Terpanas

Prancis menjadi salah satu negara yang merasakan dampak ekstrem tersebut.

Musim panas 2026 disebut menjadi yang terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1900. Suhu rata-rata Juni hingga Agustus mencapai sekitar 24 derajat Celsius, atau 3,6 derajat Celsius di atas rata-rata historis.

Curah hujan juga sekitar 40 persen di bawah normal sehingga kondisi kekeringan semakin parah. Kebakaran besar terjadi di sejumlah wilayah dan memaksa sekitar 250.000 orang dievakuasi dari kawasan terdampak.

Indonesia Juga Menghadapi Risiko Serius

Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Eropa.

Indonesia saat ini juga menghadapi musim kemarau yang sangat kering. Reuters melaporkan kebakaran telah mendekati kawasan Nusantara di Kalimantan Timur.

Sekitar 400 hektare lahan dilaporkan terbakar di sekitar kawasan tersebut, termasuk sekitar 300 hektare di Taman Hutan Raya Bukit Suharto.

Pemerintah telah melakukan berbagai langkah penanganan, termasuk operasi modifikasi cuaca dan penggunaan pesawat untuk melakukan pengeboman air.

Sebelumnya, laporan Reuters juga menyebut kebakaran di Indonesia telah membakar hampir 95.000 hektare pada Juli 2026, sementara lebih dari 9.000 titik panas terdeteksi pada Agustus.

Kondisi kering tersebut diperburuk oleh fenomena super El Niño, yang meningkatkan panas dan kekeringan sehingga menciptakan kondisi yang lebih mudah memicu dan memperluas kebakaran.

El Niño Berpotensi Memperburuk Kondisi

Perhatian dunia kini juga tertuju pada perkembangan El Niño yang diperkirakan menguat dalam beberapa bulan ke depan.

PBB memperingatkan bahwa El Niño yang berkembang saat ini berpotensi sangat kuat. Fenomena tersebut dapat mengubah pola hujan dan suhu di berbagai wilayah dunia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, panas ekstrem, dan kebakaran di sejumlah kawasan.

Para ahli mengingatkan bahwa kemarau tidak secara otomatis menyebabkan kebakaran. Banyak kebakaran tetap bermula dari aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak sengaja. Namun, kondisi panas, kering, dan berangin dapat membuat api jauh lebih mudah menyebar dan menjadi lebih sulit dikendalikan.

Dunia Diminta Lebih Siaga

Rangkaian kebakaran tersebut menjadi peringatan bahwa risiko kebakaran hutan tidak hanya menjadi persoalan negara-negara yang selama ini dikenal memiliki musim panas kering.

Wilayah yang biasanya lebih sejuk dan basah pun mulai menghadapi periode yang cukup kering untuk memungkinkan vegetasi terbakar.

Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting, terutama ketika suhu meningkat dan curah hujan rendah.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, tidak membuang benda yang dapat memicu api ke kawasan hutan atau lahan kering, serta segera melaporkan jika menemukan titik api.

Kemarau mungkin datang secara alami, tetapi bagaimana kebakaran dicegah dan ditangani merupakan tanggung jawab bersama.


0 Comments:

  1. No comments yet. Be the first to comment!

Berikan Komentar