Loading...

DETAIL BERITA

  • HOME
  • DETAIL BERITA
News Image
LombokSosmed, Dirilis pada:05 Sep 2026, 13:55 / 0 Komentar

Alpukat Hass di Sembalun Mulai Diburu, Petani Resah Buah Siap Panen Kerap Dicuri

LOMBOK TIMUR — Alpukat Hass yang kini menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi di kawasan Sembalun, Lombok Timur, ternyata tidak hanya menarik perhatian wisatawan dan pasar. Buah bernilai ekonomi tinggi tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran pencurian.

Kasus pencurian alpukat Hass dilaporkan terjadi di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun. Warga bahkan mengaku aksi pencurian hasil kebun sudah berulang kali terjadi dan mulai meresahkan para petani.

Salah satu kejadian terjadi pada Minggu malam, 8 Maret 2026. Pemilik kebun yang curiga dengan maraknya kehilangan buah memilih berjaga di kebunnya. Kecurigaannya terbukti ketika ia memergoki dua orang yang diduga masuk ke kebun dan memetik alpukat Hass.

Kedua orang tersebut kemudian melarikan diri setelah aksinya diketahui warga. Mereka meninggalkan sebuah sepeda motor di lokasi.

Warga yang emosi kemudian membakar sepeda motor tersebut. Polisi yang datang ke lokasi menemukan sejumlah barang bukti, di antaranya kerangka sepeda motor yang terbakar, sebilah golok, kain sarung, tas carrier, serta lima buah alpukat Hass.

Kerugian Petani Bisa Mencapai Satu Kuintal

Yang membuat petani semakin resah adalah besarnya potensi kerugian.

Menurut keterangan warga yang dikutip media lokal, dalam satu kebun buah alpukat yang siap panen bahkan bisa hilang hingga sekitar satu kuintal.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena alpukat Hass memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan alpukat biasa.

Di Sembalun, harga alpukat Hass dilaporkan dapat mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, sedangkan alpukat biasa berada di kisaran Rp10.000–Rp15.000 per kilogram.

Mengapa Alpukat Hass Banyak Diminati?

Alpukat Hass kini menjadi salah satu komoditas baru yang menjanjikan bagi petani Sembalun.

Salah seorang pelopor budidayanya, H. Aras, mulai mengembangkan alpukat Hass sejak 2022. Dari sekitar 87 pohon yang ditanam di lahan seluas 30 are, hasil panennya dinilai cukup menjanjikan. Pada panen perdana, satu pohon dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 80–90 kilogram buah.

Selain harga yang tinggi, alpukat Hass diminati karena daging buahnya padat, kandungan air relatif rendah dan daya simpannya lebih lama.

Permintaan dari wisatawan juga disebut cukup tinggi. Melalui konsep agrowisata, wisatawan dapat memetik buah langsung dari pohon. Bahkan, rata-rata seorang tamu disebut dapat membeli lebih dari 10 kilogram.

Polisi Imbau Warga Tidak Main Hakim Sendiri

Atas kasus pencurian tersebut, pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak mengambil tindakan sendiri terhadap orang yang diduga melakukan pencurian.

Polisi melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas dua orang yang melarikan diri setelah dipergoki di kebun.

Kasus ini sekaligus menunjukkan bagaimana meningkatnya nilai ekonomi sebuah komoditas dapat menghadirkan tantangan baru bagi petani.

Alpukat Hass memang bukan berarti sudah langka di Lombok, tetapi tingginya harga dan permintaan membuat buah tersebut semakin bernilai dan menjadi perhatian, termasuk dari pihak yang berniat mencurinya.

Kini tantangannya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana memastikan hasil kebun petani tetap aman hingga sampai ke pasar.

Menurut Anda, apakah alpukat Hass di Sembalun layak dikembangkan menjadi komoditas unggulan Lombok?


0 Comments:

  1. No comments yet. Be the first to comment!

Berikan Komentar