Dari Mangrove Jadi Sumber Ekonomi Warga, Bale Mangrove Jerowaru Dorong UMKM Desa di Lombok Timur
LOMBOK TIMUR – Potensi alam yang dikelola bersama masyarakat dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi desa. Hal tersebut terlihat dari perkembangan Ekowisata Bale Mangrove di Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kawasan yang mengusung konsep wisata berbasis lingkungan tersebut tidak hanya menjadi tempat rekreasi bagi wisatawan, tetapi juga mulai berkembang sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor wisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ekowisata Bale Mangrove merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat Desa Berdaya Jerowaru. Pengelolaannya dilakukan secara berbasis komunitas dengan melibatkan masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Perkembangan kawasan tersebut menunjukkan bahwa potensi alam desa dapat memberikan nilai ekonomi apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Dari Tiket Wisata hingga Produk UMKM
Salah satu perkembangan terbaru di kawasan Bale Mangrove adalah hadirnya fasilitas rest area dan pusat oleh-oleh Bale Mangrove Store.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus membuka ruang pemasaran bagi produk-produk olahan lokal masyarakat.
Menariknya, pembangunan sejumlah fasilitas baru di kawasan tersebut dilakukan dari hasil pengelolaan mandiri Pokdarwis Bale Mangrove.
Dana pembangunan diperoleh dari pendapatan tiket wisata serta berbagai paket kegiatan edukasi yang ditawarkan kepada pengunjung.
Model tersebut menunjukkan bagaimana kegiatan wisata dapat menciptakan perputaran ekonomi yang kemudian kembali digunakan untuk mengembangkan kawasan dan mendukung masyarakat lokal.
Produk UMKM juga menjadi bagian penting dalam pengembangan Bale Mangrove. Kehadiran pusat oleh-oleh memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan dan menjual produk lokal kepada wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.
Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam mangrove, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi melalui pembelian produk masyarakat desa.
Jumlah Pengunjung Terus Meningkat
Perkembangan Bale Mangrove juga terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan.
Dalam periode September 2023 hingga Juni 2024, jumlah kunjungan tercatat sebanyak 91.719 orang.
Sementara pada periode Juli 2024 hingga Juni 2025, jumlah kunjungan meningkat menjadi 135.269 orang.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap wisata edukasi dan wisata berbasis lingkungan.
Jumlah pengunjung yang meningkat tentu menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Selain pendapatan dari tiket masuk, kehadiran wisatawan juga membuka peluang bagi penjualan makanan, minuman, oleh-oleh, jasa wisata, serta berbagai produk UMKM lokal.
Bagi masyarakat desa, wisata tidak hanya berarti tempat untuk dikunjungi, tetapi dapat menjadi pasar baru bagi produk dan jasa yang mereka miliki.
Dari Kawasan Pesisir Menjadi Potensi Desa
Desa Wisata Jerowaru memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung ekonomi masyarakat.
Selain Ekowisata Bale Mangrove, kawasan tersebut juga memiliki potensi wisata kuliner, budidaya lobster, budaya lokal, hingga produk khas masyarakat.
Pengembangan berbagai potensi tersebut dapat saling mendukung.
Wisatawan yang datang menikmati kawasan mangrove, misalnya, dapat diarahkan untuk mengenal produk kuliner lokal, membeli oleh-oleh masyarakat, atau mengunjungi potensi ekonomi lain yang ada di desa.
Semakin lama wisatawan berada di sebuah desa, semakin besar pula peluang perputaran ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat setempat.
Karena itu, pengembangan desa wisata tidak hanya berbicara tentang membangun tempat wisata, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mengambil bagian dan memperoleh manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan.
Mangrove dan Ekonomi Bisa Berjalan Bersama
Selain memberikan dampak ekonomi, pengembangan Bale Mangrove juga tetap menempatkan konservasi lingkungan sebagai bagian utama dari kegiatan.
Hingga pertengahan 2025, kawasan tersebut dilaporkan telah merehabilitasi sekitar 1,6 hektare hutan mangrove dengan lebih dari 8.000 pohon yang ditanam.
Konsep ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu bertentangan dengan pembangunan ekonomi.
Sebaliknya, lingkungan yang terjaga justru dapat menjadi sumber potensi ekonomi baru apabila dikelola secara tepat.
Bale Mangrove Jerowaru menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat desa dapat mengembangkan potensi yang ada di sekitar mereka.
Potensi tersebut mungkin berupa hutan, pantai, pertanian, kuliner, kerajinan, budaya, maupun produk khas desa.
Dengan pengelolaan yang baik, promosi yang tepat, serta keterlibatan masyarakat, potensi lokal dapat berkembang menjadi sumber pendapatan baru.
Ke depan, Ekowisata Bale Mangrove diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi ruang edukasi, pusat pengembangan UMKM, dan contoh pengelolaan ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Bagi banyak desa di Lombok, kisah Bale Mangrove Jerowaru dapat menjadi pengingat bahwa peluang ekonomi tidak selalu harus dicari jauh.
Terkadang, potensi terbesar justru sudah ada di desa sendiri dan hanya membutuhkan masyarakat yang berani melihatnya sebagai peluang.
Lalu, bagaimana dengan desa Anda? Potensi apa yang menurut Anda paling layak dikembangkan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat?
No comments yet. Be the first to comment!